JAKARTA GREEN SPINE RESEARCH OPINI | LINGKUNGAN & PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN: Jakarta Tidak Lagi Hanya Bertahan—Kini Jakarta Memiliki Solusi Dari Kota yang Terancam Menjadi Kota yang Membangun Ketahan
- olivia putihrai
- Jul 22
- 3 min read
Jakarta, Indonesia — Selama bertahun-tahun, Jakarta sering menjadi sorotan media internasional sebagai salah satu kota dengan tingkat penurunan muka tanah tercepat di dunia. Berbagai laporan dari organisasi internasional menyoroti risiko banjir, penurunan tanah, dan kenaikan muka air laut yang dapat mengancam masa depan ibu kota.
Namun, narasi bahwa “Jakarta akan tenggelam” tidak lagi menggambarkan keseluruhan kenyataan.
Yang sering luput dari pemberitaan adalah bahwa Jakarta kini telah memulai berbagai langkah nyata menuju transformasi sebagai kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

Tantangan Masih Ada, Tetapi Jakarta Sudah Bergerak
Tidak dapat dipungkiri bahwa Jakarta menghadapi tantangan besar.
Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah, minimnya ruang terbuka hijau, sedimentasi sungai, pencemaran kanal, serta pertumbuhan kota yang sangat pesat menjadi persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Namun berbeda dengan satu dekade lalu, saat ini pemerintah telah memulai berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Program pembersihan sungai dan kanal, revitalisasi sistem drainase, peningkatan pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan air tanah, serta penambahan ruang terbuka hijau menunjukkan bahwa Jakarta sedang memasuki fase baru dalam pembangunan perkotaannya.
Dari Mengatasi Banjir Menjadi Membangun Kota yang Tangguh
Perubahan paradigma menjadi langkah terpenting.
Jika sebelumnya fokus hanya pada penanganan banjir setelah terjadi, kini pendekatan mulai bergeser menuju pembangunan kota yang mampu mengurangi risiko sebelum bencana terjadi.
Inilah konsep Climate Resilient City yang telah diterapkan di berbagai kota dunia.
Jakarta Green Spine: Solusi Berbasis Alam untuk Masa Depan Jakarta
Sebagai kontribusi terhadap transformasi tersebut, Jakarta Green Spine Research mengembangkan konsep Jakarta Green Spine, sebuah koridor hijau metropolitan seluas sekitar 125 hektare di kawasan Sudirman–Kuningan.
Konsep ini mengintegrasikan:
Hutan kota
Bioswale
Rain Garden
Kolam retensi
Koridor pejalan kaki
Jalur sepeda
Ruang publik hijau
Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan kota dalam menyerap air hujan, menurunkan suhu perkotaan, meningkatkan kualitas udara, serta memperkuat ketahanan Jakarta terhadap perubahan iklim.
Transportasi Air sebagai Bagian dari Solusi
Transformasi tersebut juga didukung melalui konsep NUSA FLOW, yaitu integrasi transportasi air modern dengan MRT, LRT, KRL, dan TransJakarta.
Sistem ini diharapkan dapat:
mengurangi kemacetan,
menurunkan emisi karbon,
menghidupkan kembali fungsi kanal sebagai bagian dari sistem transportasi perkotaan,
sekaligus mendorong revitalisasi kawasan bantaran sungai.
Transportasi air tidak hanya menjadi moda mobilitas baru, tetapi juga menjadi insentif untuk menjaga kualitas sungai dan kanal tetap bersih.
Sampah Bukan Lagi Masalah, Tetapi Menjadi Sumber Daya
Jakarta Green Spine Research juga mengusulkan sistem pengelolaan sampah terpadu melalui:
Floating Trash Boom
Trash Interceptor
Smart Sensor berbasis AI
Kapal pembersih harian
Pengelolaan sedimentasi
Material hasil pengerukan dan sampah yang telah dipilah serta diolah sesuai standar lingkungan berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi atau kebutuhan proyek tertentu apabila memenuhi seluruh persyaratan teknis dan regulasi lingkungan.
Pendekatan ekonomi sirkular ini bertujuan mengurangi volume sampah yang berakhir di laut maupun tempat pembuangan akhir.
Lebih Banyak Ruang Hijau, Lebih Aman bagi Jakarta
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau bukan sekadar elemen estetika kota.
Ruang hijau berfungsi sebagai infrastruktur yang mampu:
mengurangi banjir,
menurunkan suhu kota,
meningkatkan kualitas udara,
memperbaiki kesehatan masyarakat,
meningkatkan keanekaragaman hayati.
Investasi pada ruang hijau merupakan investasi terhadap ketahanan kota dalam jangka panjang.
Perubahan Tidak Terjadi Dalam Semalam
Transformasi Jakarta tidak akan selesai hanya dengan satu proyek.
Keberhasilan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat.
Pembangunan kota yang tangguh merupakan proses jangka panjang yang memerlukan konsistensi, inovasi, dan kolaborasi.
Editorial
Selama bertahun-tahun dunia bertanya,
“Apakah Jakarta akan tenggelam?”
Kini pertanyaan yang lebih relevan adalah,
“Seberapa cepat Jakarta mampu membangun ketahanan terhadap perubahan iklim?”
Jakarta tidak lagi hanya menghadapi masalah.
Jakarta telah mulai membangun solusi.
Melalui kombinasi kebijakan pemerintah, peningkatan ruang terbuka hijau, revitalisasi sungai dan kanal, sistem transportasi berkelanjutan, serta konsep Jakarta Green Spine dan NUSA FLOW, ibu kota memiliki peluang untuk menjadi salah satu contoh transformasi perkotaan berbasis alam di Asia.
Masa depan Jakarta tidak hanya ditentukan oleh ancaman yang dihadapinya, tetapi oleh keberanian seluruh masyarakat untuk membangun solusi bersama.
Jakarta Green Spine Research
“Towards a Greener, Healthier, and More Climate-Resilient Jakarta”



Comments